Assalaamu'alaikum Wr. Wb - Selamat Datang di Website Madrasah Tsanawiyah Nurul Ikhwan Tahun Ajaran 2023/2024

Disiplin Positif "Praktek Baik KE-HA-TI"

 PENERAPAN DISIPLIN POSITIF DILINGKUNGAN SEKOLAH

PRAKTEK BAIK “KEHATI”

Dalam hal ini, kata disiplin  sendiri berasal dari kata latin “discipline”. Artinya “latihan atau pendidikan dalam pengembangan harkat, spiritualitas, dan kepribadian”. Disiplin memanifestasikan dirinya sebagai upaya untuk meningkatkan perilaku individu agar mengikuti prinsip dan selalu mengikuti aturan atau norma yang berlaku. Sekarang, kata disiplin telah berkembang maknanya dalam beberapa cara. Pertama, disiplin diartikan sebagai kepatuhan  atau pengawasan dan pengendalian peraturan (hukum). Kedua bidang tersebut merupakan latihan yang bertujuan untuk mengembangkan diri agar  berperilaku tertib.


Menurut Siswanto “2001”, disiplin ini adalah sikap menghormati, menghargai, tunduk, dan tunduk pada peraturan yang berlaku, baik secara tertulis maupun tertulis, dan  apabila kewajiban dan wewenang yang dilimpahkan itu dilanggar maka sanksi tidak dapat dielakkan. 

Menurut Atmosudirjo, “Atmodiwirjo, 2000”, disiplin merupakan bentuk ketaatan dan pengendalian diri erat kaitannya dengan rasionalisme, kesadaran, dan tanpa emosi. Pandangan ini menunjukkan bahwa disiplin merupakan bentuk pengendalian diri ketaatan terhadap aturan  yang dilakukan dari pertimbangan  rasional. 

Dari definisi di atas, kita dapat menarik kesimpulan. Disiplin adalah sikap rela sepenuhnya untuk menaati segala aturan dan norma yang ada dalam pelaksanaan tugas sebagai bentuk tanggung jawab apa pun. Bagaimanapun, sikap disiplin adalah tertanam pada prinsip seseorang. Itu artinya sikap disiplin bisa dipelajari dan bukan hal naluriah yang begitu saja didapatkan.

Selanjutnya disiplin juga mempunyai tujuan yaitu : Gaustad (1992) mengemukakan bahwa disiplin memiliki dua tujuan. Dengan kata lain, ini adalah tentang memberikan kenyamanan kepada seseorang dan menciptakan lingkungan yang mudah untuk belajar. Subaru (1994) berpendapat bahwa disiplin bertujuan untuk mematuhi aturan dengan persepsinya sendiri dalam menciptakan aturan. Menurut 

Durkheim (1995), disiplin memiliki dua tujuan. Artinya, mengembangkan aturan khusus untuk perilaku manusia, menetapkan tujuan tertentu, dan sekaligus membatasi ruang lingkupnya. Yahya (1992) mengemukakan bahwa tujuan disiplin ini adalah pengembangan pengembangan diri  dan pengendalian diri  tanpa campur tangan atau kendali dari luar. 

Kedisiplinan siswa sangat penting untuk kemajuan sekolah itu sendiri. Sekolah yang tertib akan menciptakan proses pembelajaran yang baik. Namun sebaliknya, di sekolah yang kurang tertib kondisinya akan jauh berbeda dan proses pembelajaran menjadi kurang efektif. Meingkatkan kedisiplinan terhadap siswa sangat penting dilakukan oleh sekolah, mengingat sekolah merupakan tempat generasi penerus bangsa. Salah satu faktor yang membantu para siswa meraih sukses dimasa depan yaitu dengan kedisiplinan.  Para siswa dalam melakukan kegiatan belajar disekolah tidak terlepas dari berbagi peraturan dan tata tertib yang telah diberlakukan disekolahnya, dan setiap siswa harus berprilaku sesuai dengan tata tertib yang telah ada disekolahnya.

Disiplin merupakan suatu kondisi yang terbentuk dari proses dan serangkaian perilaku yang menunjukan nilai ketaatan, kepatuhan, dan ketertiban. Dengan adanya kedisiplinan di sekolah diharapkan mampu menciptakan suasana lingkungan belajar yang nyaman dan tentram di dalam kelas. Siswa yang disiplin yaitu siswa yang biasanya hadir tepat waktu, taat terhadap semua perturan yang diterapkan disekolah, serta berprilaku sesuai dengan norma-norma yang berlaku.

Mengenai disiplin siswa, tidak bisa terlepas dari persoalan perilaku negatif pada siswa tersebut, yang pada saat ini semakin memprihatinkan. Banyak tindakan negatif yang dilakukan oleh para siswa di sekolah dari bolos, tawuran atau berkelahi, mencuri, merokok, dan pelangaran-pelangaran yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Tidak jarang akhir-akhir ini kasus-kasus muncul kepermukaan tentang guru yang mencoba mendisiplinkan anak didiknya yang kemudian diprotes orangtua peserta didik tersebut atau bahkan dilaporkan ke polisi karena merasa cara yang dilakukan guru tersebut merugikan diri dan anaknya.

Atas dasar hal tersebut diatas, saya mencoba memberikan alternatif solusi bagaimana cara mendisiplinkan anak disekolah tanpa harus merasa merugikan peserta didik secara akademis dan psikologisnya.

Alternatif solusi yang bisa digunakan adalah “Penerapan Disiplin Positif di Lingkungan Sekolah”.

Disiplin positif adalah penerapan disiplin dengan TIDAK MENGGUNAKAN hukuman fisik kepada siswa seperti pushup, lari, kontak fisik, hormat tiang bendera dll. Karena hal ini bisa  memberikan dampak negatif kepada psikologis siswa sekaligus memberi kerugian pada akademisnya.

Dalam kurikulum merdeka DISIPLIN POSITIF menjadi salah satu pilar penting dalam pembentukan budaya positif disekolah yang mengacu kepada nilai-nilai kebajikan universal yaitu Profil Pelajar Pancasila.

Salah satu Praktek Baik yang bisa diterapkan dalam mendisiplinkan siswa adalah menjalankan program “KEHATI” (Ke = Kenali Kesalahan, Ha = Hadapi Konsekuensi, Ti = Restorasi Diri)

Hal Pertama yang dilakukan adalah walikelas dan siswa membuat kesepakatan bersama mengenai daftar konsekuensi. Lalu kesepakatan tersebut bisa diberi nama sesuai kesepakatan kelas. Seperti contoh namanya adalah MENU BENAHI DIRI 

BERIKUT CONTOH MENU BENAHI DIRI

  • MEMPERKENALKAN DIRI DAN BERCERITA TENTANG DIRI DENGAN MEMPERGUNAKAN BAHASA ASING ATAU BAHASA SUNDA TANPA MELIHAT TEKS DENGAN DURASI WAKTU MIN 5’ MAKS 10’
  • MEMBACA BUKU DIPERPUSTAKAAN MIN 30’ LALU MERINGKAS HASIL BACAAN
  • MEMIMPIN BERDOA DIKELAS DAN MENGUCAPKAN PROFIL PELAJAR PANCASILA DAN BUDAYA KERJA SETIAP PAGI SEBELUM BELAJAR SELAMA SEMINGGU BERTURUT-TURUT
  • MENGUCAPKAN VISI DAN MISI SEKOLAH TANPA MELIHAT TEKS
  •  MENGUCAPKAN 2 SURAT PENDEK BESERTA ARTINYA DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH
  • MENYANYIKAN SATU LAGU DAERAH DAN LAGU WAJIB NASIONAL DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH
  • MENGUCAPKAN PANCASILA BESERTA SIMBOLNYA ATAU PEMBUKAAN UUD 1945, ATAU MENGUCAPKAN PANCA PRASETYA SISWA TANPA MELIHAT TEKS
  • MENULISKAN TOPIK-TOPIK  ATAU ISU-ISU YANG TRENDING BAIK DIINDONESIA MAUPUN DUNIA LALU MENGANALISISNYA MENURUT PANDANGAN DIRI SENDIRI
  • MENULISKAN PUISI MINIMAL 4 PARAGRAF LALU MEMBACAKANNYA DIDEPAN KELAS
  • MENYEBUTKAN NAMA-NAMA PAHLAWAN MINIMAL 5 PAHLAWAN BESERTA JASA-JASANYA BAGI BANGSA

Selanjutnya bagaimana PRAKTEK KEHATI dijalankan ?

Siswa yang melakukan kesalahan dikumpulkan dalam suatu tempat untuk menerima pendekatan kehati

Langkah-langkahnya :

1.       KE : Kenali Kesalahan : Siswa melakukan mindfulness (latihan berkesadaran penuh) agar siswa secara sadar mengenali kesalahan yang dilakukan

2.     HA : Hadapi Konsekuensi : Siswa memilih salah satu daftar “benahi diri” sesuai dengan kemampuan dan melakukannya secara sukarela dan bertanggung jawab

3.       TI : Restorsi Diri : Siswa menuliskan permintaan maap, membuat komitmen diri untuk tidak mengulang perilaku yang sama dan menyampaikan hal tersebut kepada orangtua masing-masing.

Pendekatan ini juga melibatkan proses pemahaman siswa terhadap konsekuensi dari tindakan mereka sehingga kedepan siswa dapat tumbuh dan berkembang secara positif.

 Berikut contoh lembar restorasi diri :


Download Form Disiplin KEHATI

Handi Yustia G, S.Pd (Guru Seni Budaya)

0 Komentar